Mie ayam..., mendengar kata itu aku langsung teringat jaman aku masih duduk di bangku SMA. Waktu SMA aku tinggal di kost bersama teman-temanku yang beda kecamatan, bahkan beda kabupaten. Mengapa aku tinggal di kost, ya..., karena rumahku jauh dari sekolahku. Kalau naik motor sekitar satu jam perjalanan bisa sampe di sekolahku.
Jadi anak kost tidaklah mudah karena harus pandai mengatur uang saku yang telah diberikan orang tua selama satu minggu. Jadi meskipun uang saku tinggal minta orang tua, tapi aku selalu berhati-hati dan berusaha untuk selalu bisa menghemat uang. Sepulang sekolah ada berbagai macam penjual makanan keliling yang lewat di depan kost. Waktu itu masih terngiang di pikiranku, hari itu hari jumat sore yang merupakan hari yang aku tunggu-tunggu karena esokny adalah hari sabtu, hari di mana sorenya aku bisa mudik dan bertemu dengan orang tuaku. Jumat sore itu ada penjual mie ayam keliling lewat depan kostku, akan tetapi uang sakuku sudah menipis karena selain aku pakai jajan di sekolah, sudah aku pakai buat biaya foto kopi tugas sekolah. Ingin aku beli mie ayam itu tapi bagaimana kalau besok ada iuran untuk tugas-tugas lagi, akhirnya aku patungan sama dua temanku untuk bisa membeli semangkok mie ayam. Alhamdulillah, Akhirnya semangkok mie ayam telah terbeli.
Semangkok mie ayam kunikmati bertiga, alangkah nikmat rasanya mie ayam itu. Meski dibeli dengan keterbatasan uang sakuku. Mie ayam yang mungkin rasanya tidak bisa kunikmati lagi bersama temanku itu, karena satu temanku itu telah tiada. Dia telah di panggil Yang Maha Kuasa kurang lebih 5 tahun yang lalu karena sakit kanker kelenjar getah bening. Sedih hati ini jika teringat kenangan itu. Temanku...., Semoga kau bahagia di alam sana.

keren...tulisannya. lanjutkan
BalasHapuskunjungibalik ya..
muhammadtaufiq1969.blogspot.com
Makasih Pak
BalasHapus